AL-TAFSIRU AL-MUYASSARU Karya Aidh bin Abdullah al-Qarni

Oleh:
Ahmad Karomain 1110034000106
(Mahasiswa Tafsir Hadis UIN Jakarta)

A.    Biografi Aidh al-Qarny
Penulis kelahiran 1379 H (1960 M) ini memiliki nama lengkap Dr. `Aidh Abdullah bin `Aidh al-Qarni. Nama al-Qarni diambil dari dari daerah asalnya di wilayah selatan Arab Saudi. Beliau berkata “Orang tua saya seorang tokoh masyarakat di daerah saya. Saya berasal dari keluarga ulama. Sejak kecil ayah sudah membawa saya ke masjid untuk shalat berjamaah. Saya juga sudah terbiasa dengan bacaan sejak kecil. Tampaknya saya dididik dengan  pejuang dakwah. Ayah selalu membelikan buku bacaan untuksaya.
Ia menamatkan program sarjana (Lc), magister (M.A.) dan doktor di Universitas Islam Imam Muhammad bin Su`ud, Riyadh, Arab Saudi. Ia hafal Al-Quran dan kitab Bulughul Maram, serta telah mengajarkan 5.000-an hadis dan 10.000-an bait syair. Sekitar 1.000-an judul kaset yang berisi ceramah agama, kuliah, serta kumpulan puisi dan syair karyanya telah dipublikasikan.
Keberaniannya menyuarakan kebenaran juga sempat membuatnya merasakan jeruji besi pemerintah Al-Saud. Kesalahannya saat itu, ia dan kawan-kawan ulama mudanya berani berteriak lantang menentang kehadiran pasukan Amerika Serikat di Arab Saudi atas undangan pemerintah Al-Saud.
Aktivitas Al Qarni boleh dibilang tidak jauh dari kegiatan membaca dan menulis. Bahkan, ketika masih mendekam dalam penjara, dua aktivitas inilah yang membuatnya sibuk. Menimba ilmu adalah hal utama bagi pria yang mendalami ilmu syariah dan dakwah. Pria yang kini berusia 52 tahun ini menuntut ilmu di Madrasah Ibtidaiyah Ali Salman, dia juga belajar di Ma’had Ilmi sejak bangku SMP, hingga meraih gelar S1 dan S2 di tempat yang sama. Gelar doktor dalam bidang hadits diraihnya dari Al-Imam IslamicUniversity,Riyadh.

B.    Karya-karya Aidh al-Qarny
Karya-karya Al-Qarni antara lain :
1.    Islam Rahmatan Lil `Alamin` (Cakrawala).
2.    Sumber Inspirasi Orang Saleh`(Maghfirah Pustaka).
3.    40 Hadis Qudsi dan Zikir`(Aqwam).
4.    Membangun Rumah dengan Taqwa` (Maghfirah Pustaka).
5.    Cahaya Pencerahan`(Qishti), `Cahaya Zaman`(Gema Insani).
6.    Jangan Takut Hadapi Hidup`(Cakrawala).
7.    Demi Masa, Beginilah Waktu Mengajari Kita` (Cakrawala).
8.     Nikmatnya Hidangan Al-Quran`(Maghfirah Pustaka).
9.     Manusia Langit Manusia Bumi`(Aqwam).
Sementara buku yang sangat laris yang diterbitkan sejumlah penerbit dan dicetak berulang kali adalah :
1.    La Tahzan, Jangan Bersedih` (Qishti Press).
2.    Tips Menjadi Wanita Paling Bahagia di Dunia` (Maghfirah).
3.    Menjadi Wanita Paling Bahagia` (Qishti Press).
4.    Ramadhankan Hidupmu`(Maghfirah Pustaka).
5.    Tersenyumlah`(Gema Insani).
6.    Jangan Putus Asa`(Robbani Press).
7.    Jangan Berputus Asa` (Darul Haq).
8.    Tafsi al-Muyassar  (Qishti Press)

Karya lain yang juga terbilang sukses di Indonesia adalah:
1.    Jagalah Allah, Allah Menjagamu` (Darul Haq).
2.     Majelis Orang-Orang Saleh`(Gema Insani).
3.     Cambuk Hati`(Irsyad Baitus Salam).
4.    Bagaimana Mengakhiri Hari-harimu`(Sahara Publisher).
5.    Berbahagialah`(Pustaka Al-Kautsar) dan(Gema Insani).
6.    Power of Love` (Zikrul Hakim).
7.    Al-Azahamah, Keagungan`(Pustaka Azzam).
8.    Menakjubkan!`(Aqwam).
9.    Jadilah Pemuda Kahfi`(Aqwam).
10.    Mutiara Warisan Nabi SAW`(Sahara Publisher).
11.    Gerbang Kematian` (Pustaka Al-Kautsar).

C.    Proses  Penulisan
Dalam Muqaddimahnya, beliau mengatakan bahawa, yang membuat termotivasi untuk menuliskan Tafsir ini, tidak lain dikarenakan, beliau mencari-cari tafsir yang menjelaskan makana-makna ayat secara gemlang dan ringkas, dan lansung menjelaskan makna ayat ketika pertama kali dibaca, yaitu tafsir yang menunjukkan kepada maksud setiap ayat.
Ada beberapa alasan, mengapa Aidh al-Qarni, menulis tafsir al-Muyassar ini, diantaranya adalah:
a.    Karena beliau meliahat ada ahli tafsir yang mementingkan segi Bi al-Ma’sur-nya saja, dan mencantumkan banyak sanad,  lalu mengulang-ngulangnya, bertele-tele untuk langsung  menjelaskan makan ayatnya.
b.    Ada juga yang mementingkan dari segi Balaghah dan sastra-nya, sehingga ia menyebutkan banyak rahasia sastra al-Qur’an yang terkandung. Bahkan, kadang-kaeang hal ini membawanya menyebutkan makna yang tidak dimaksud dalam ayat yang sedang ia bahas.
c.    Adapula penafsir yang lebih memperhatikan dari segi hukum, sehingga memfokuskan pembahasannya dalam masalah-masalah fikih dan pendapat ulama’ tentangnya.
D.    Nama Tafsir al-Muyassar
Karya ‘Aidh al-Qarni dalam bidang tafsir yang menjadi kajian kali ini adalah al-Tafsiru al-Muyassaru, jika ditelaah lebih jauh mengapa beliau menggunakan judul tafsirnya al-Tafsiru al-Muyassaru karena menurutnya tafsir ini mudah dipahami dan disajikan dengan bahasa yang lugas dan jelas . Ini alasan beliau mengenai penamaan karya tafsirnya.
E.    Motivasi Penulisan Tafsir
Dari beberapa tafsir yang pernah beliau telaah dan pelajari beliau banyak menemukan tafsir mementingkan segi tafsir bi al-Ma’tsur (bersandarkan pada ayat dan hadis) sehingga ia mencantumkan banyak sanad (jalan riwayat) dan mengulang-ulangnya kemudian menyebutkan hadis lemah. Ada pula yang menafsirkan dari segi balagha dan sastra, hukum, disiplin ilmu, sehingga melelahkan pembaca untuk sampai ke makna ayat yang ditafsirkan. Oleh karena itu beliau menafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang dapat dipahami dengan mudah, menjelaskan makna ayat yang menunjukkan kepada maksud setiap ayat.

F.    Karatistik Penafsiran
Sangat memperhatikan pesan makna yang terkandung dalam al-Qur’an, tanpa menganalisa lebih dalam mengenai kebahasaan dan arti kosa kata. Sehingga konsentrasi pembaca akan lebih maksimal dalam memahami pesan hidayah al-Qur’an.
G.    Metode Penafsiran dan Corak tafsir
Metode yang digunakan Aidh al-Qarni dalam menafsirkan al-Qur’an adalah metode Ijmali ( suatu penafsiran ayat-ayat al-Qur’an, di mana penjelasan yang dilakukan cukup singkat dan global. Dengan kata lain penafsiran dengan metode ini berusaha menjelaskan ayat-ayat al-Qur’an secara ringkas tapi dengan menggunakan bahasa yang populer, mudah dimengerti dan enak dibaca. Di samping itu, penyajian tafsir yang menggunakan metode ijmali tidak terlalu jauh dari gaya bahasa al-Qur’an sehingga pendengar dan pembacanya seakan-akan masih tetap mendengar al-Qur’an).
Corak penafsirannya adalah Hida’i
H.    Sistematika penafsiran
1.    Menyebutkan muqaddimah yang menjelaskan garis besar penafsiran
2.    Menyebutkan nama surah (nama surah, makiyah, madaniyah, jumlah ayat)
3.    Ayat terlebih dahulu ditulis dengan tanda buka tutup kurung
4.    Kemudian beliau menafsirkan dengan bahasa yang lugas, jelas, mudah dipahami
5.    Menafsirkan ayat demi ayat sesuai urutan mushaf
6.    Tidak menjelaskan ayat-ayat mutasyabihat secara detail.
7.    Menukil sedikit hadis- hadis dan atsar dan membahasnya secara singkat.
8.    Tidak menyebutkan perbedaan pendapat tentang suatu makna yang lebih kuat dan jelas dari ayat tersebut
9.    Tidak menyebutkan syair dan masalah-masalah kebahasaan dan perbedaan cara membaca (qira’at)
10.    Tidak menyebutkan kisah-kisah israiliyat dan kutipan-kutipan perkataan ulama. Akan tetapi beliau langsung menyebutkan inti makna dan penafsirannya secara sederhana
11.    Menyebutkan sebagian hukum serta faidah dan rahasia yang terkandung dalam ayat secara ringkas.

I.    Sumber-sumber penafsirannya
Menukil hadis-hadis shahih, atsar, pendapat ulama’ yang sahih dan masyhur.

J.    Kelebihan dan Kekurangan
Kelebihan
1.    Tafsir al- Muyassar ini mudah dipahami karena menggunakan bahasa yang lugas, jelas, mudah dipahami
2.    Dalam penafsiran beliau sangat memperhatikan pesan isi kandungan yg terdapat dalam ayat
3.    Pembaca atau penelaah akan dapat langsung memahami makna ayat dengan mudah dan jelas untuk mengetahui maksud ayat dan rahasia-rahasia yang terkandung di dalamnya, karena sebenarnya inilah yang diharapkan dari penghayatan al-Qur’an dan kemudian dapat merealisasikannya dalam realita kehidupan.
4.    Menyebutkan inti makna dan menafsirkannya secara sederhana.
5.    Menyebutkan pendapat yang sahih dan masyhur.
6.    Membuang pendapat yang bertentangan
Kekurangan
1.    Tidak menyebutkan sanad ketika beliau menukil hadis sebagai referensi, sehingga kwalitas hadis itu masih dipertanyakan.
K.    Contoh-contoh penafsiran
سورة الفاتحة
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (1)
سورة الفاتحة سميت هذه السورة بالفاتحة; لأنه يفتتح بها القرآن العظيم, وتسمى المثاني; لأنها تقرأ في كل ركعة, ولها أسماء أخر. أبتدئ قراءة القرآن باسم الله مستعينا به,(اللهِ) علم على الرب -تبارك وتعالى- المعبود بحق دون سواه, وهو أخص أسماء الله تعالى, ولا يسمى به غيره سبحانه.(الرَّحْمَنِ) ذي الرحمة العامة الذي وسعت رحمته جميع الخلق,(الرَّحِيمِ) بالمؤمنين, وهما اسمان من أسمائه تعالى، يتضمنان إثبات صفة الرحمة لله تعالى كما يليق بجلاله.
الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (2)
(الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالَمِينَ) الثناء على الله بصفاته التي كلُّها أوصاف كمال, وبنعمه الظاهرة والباطنة، الدينية والدنيوية، وفي ضمنه أَمْرٌ لعباده أن يحمدوه, فهو المستحق له وحده, وهو سبحانه المنشئ للخلق, القائم بأمورهم, المربي لجميع خلقه بنعمه, ولأوليائه بالإيمان والعمل الصالح.
الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ (3)
(الرَّحْمَنِ) الذي وسعت رحمته جميع الخلق,(الرَّحِيمِ), بالمؤمنين, وهما اسمان من أسماء الله تعالى.
مَالِكِ يَوْمِ الدِّينِ (4)
وهو سبحانه وحده مالك يوم القيامة, وهو يوم الجزاء على الأعمال. وفي قراءة المسلم لهذه الآية في كل ركعة من صلواته تذكير له باليوم الآخر, وحثٌّ له على الاستعداد بالعمل الصالح, والكف عن المعاصي والسيئات.
إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ (5)
إنا نخصك وحدك بالعبادة, ونستعين بك وحدك في جميع أمورنا, فالأمر كله بيدك, لا يملك منه أحد مثقال ذرة. وفي هذه الآية دليل على أن العبد لا يجوز له أن يصرف شيئًا من أنواع العبادة كالدعاء والاستغاثة والذبح والطواف إلا لله وحده, وفيها شفاء القلوب من داء التعلق بغير الله, ومن أمراض الرياء والعجب, والكبرياء.
اهْدِنَا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ (6)
دُلَّنا, وأرشدنا, ووفقنا إلى الطريق المستقيم, وثبتنا عليه حتى نلقاك, وهو الإسلام، الذي هو الطريق الواضح الموصل إلى رضوان الله وإلى جنته, الذي دلّ عليه خاتم رسله وأنبيائه محمد صلى الله عليه وسلم, فلا سبيل إلى سعادة العبد إلا بالاستقامة عليه.
صِرَاطَ الَّذِينَ أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ غَيْرِ الْمَغْضُوبِ عَلَيْهِمْ وَلا الضَّالِّينَ (7)
طريق الذين أنعمت عليهم من النبيين والصدِّيقين والشهداء والصالحين, فهم أهل الهداية والاستقامة, ولا تجعلنا ممن سلك طريق المغضوب عليهم, الذين عرفوا الحق ولم يعملوا به, وهم اليهود, ومن كان على شاكلتهم, والضالين, وهم الذين لم يهتدوا, فضلوا الطريق, وهم النصارى, ومن اتبع سنتهم. وفي هذا الدعاء شفاء لقلب المسلم من مرض الجحود والجهل والضلال, ودلالة على أن أعظم نعمة على الإطلاق هي نعمة الإسلام, فمن كان أعرف للحق وأتبع له, كان أولى بالصراط المستقيم, ولا ريب أن أصحاب رسول الله صلى الله عليه وسلم هم أولى الناس بذلك بعد الأنبياء عليهم السلام, فدلت الآية على فضلهم, وعظيم منزلتهم, رضي الله عنهم. ويستحب للقارئ أن يقول في الصلاة بعد قراءة الفاتحة:(آمين), ومعناها: اللهم استجب, وليست آية من سورة الفاتحة باتفاق العلماء; ولهذا أجمعوا على عدم كتابتها في المصاحف.

Contoh surat al-Baqarah ayat 104 :
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَقُولُوا رَاعِنَا وَقُولُوا انْظُرْنَا وَاسْمَعُوا وَلِلْكَافِرِينَ عَذَابٌ أَلِيمٌ (104)
كان الصحابة يقولون للرسول صلى الله عليه وسلم: راعنا اي راع احوالنا, فاخذها اليهود وقصدوا بها راعنا من الرعونة والحمق, فنهى الله المؤمنين عن استعمال هذا لكلمة ليقطع الطريق على اليهود, وليرفع اللبس, ولايكون هنا مدخل لليهود, فعليهم ان يقولوا: انظرنا لأنها اسلم واحسن وابعد عن سوء الإستعمال, فعلى العبد ان يبتعد عن الشبهات والألفاظ المحتملات, وعليه بالجلي الواضح الحسن الذي لامذخل فيه من اي ظن او احتمال يحصل به التدليس والتلبيس, عن حديث : “دع ما يريبك الى ما لا يريبك ” وعليكم بسماع كل نافع مفيد من الكتاب والسنة وعموم العلم النافع, السماع المقرون بالقبول والإستجابة. اما الكافرون فلهم عند الله عذاب اليم موجع لسوء افعالهم وقبح اقوالهم وشناعة احوالهم.
Waktu itu, para sahabat biasa berkata kepada Rasulullah s.a.w., “Ra’ina”  yang artinya: sudilah kiranya engkau memperhatikan keadaan kami. Lalu, orang-orang Yahudi pun memakai kalimat itu dengan digumamkan, seolah mereka mengatakan kalimat “Ra’ina” padahal yang mereka katakana adalah “Ru’unah” yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah.
Maka dari itu, Allah melarang orang-orang yang beriman untuk menggunakan kata-kata ini lagi. Yakni, dengan maksud agar orang-orang Yahudi itu tidak menggunakannya lagi sebagai alat untuk menghina nabi SAW.
Dan sebagai gantinya Allah menganjurkan para sahabat untuk menggunakan kalimat “Unzhurna” yang artinya pun sama dengan kalimat “Ra’ina”. Bahkan kalimat ini lebih bagus, lebih sopan dan sulit untuk dipelesetkan atau diselewengkan.
Makna lain dari perintah ini adalah bahwa seorang hamba hendaknya senantiasa menajauhakan diri dari hal-hal yang syubhat (samar) dan kalimat-kalimat yang bisa diplesetkan untuk kejeleakan. Atau hendaklah seorang hamba itu hanya menggunakan kaliamat-kalimat yang lugas,jelas, teapat, dan tidak ada celah untuk diplesetkan pengucapannya dan diselewengkan maknanya hingga menimbulkan kesamaran. Hal ini uga disebutkan dalam hadis yang berbunyi  “tiggalkanlah apa yang meragukanmu dan ambillah apa yang tidak membuatmu ragu”.
Kalian harus mendengarkan segala sesuatu yang bermanfaat lagi berfaidah dari al-Qur’an, sunnah dan ilmu-ilmu lain yang bermanfaat yaitu pendengaran yang disertai penghayatan dan pengamalan.
Adapun orang-orang kafir, bagi mereka  adzab yang pedih lagi menyakitkan disisi Allah disebabkan oleh perbuatan, uccapan, prilaku buruk mereka.

L.    Kesimpulan
Tafsir yang ditulis oleh Aidh al-Qarni ini patut diapresiasi oleh semua kalangan, baik akademis maupun non akademis, karena dalam penafsirannya beliau sangat memperhatikan pesan inti makna dari ayat itu sendiri, serta beliau menafsirkannya dengan bahasa yang sederhana agar para pembaca mudah dalam memahami makna yang terkandung di dalam ayat itu. Beliau tanpa menyebutkan perbedaan pendapat mengenai qiraat, penafsiran ayat mutasyabbihat, karena ketika seorang penafsir hanya terfokus dalam menganalisa perbedaan mengenai qiraat, penafsiran ayat mutasyabbihat, segi balagha, dan lain sebagainya, bagi Aidh al-Qarni kurang efektif untuk menangkap makna pesan inti dari ayat itu sendiri. Sehingga beliau menafsirkannya secara sederhana agar pembaca al-Qur’an tidak merasa lelah dalam mengambil pelajaran yang tekandung dalam ayat itu, oleh karena itu sesuai dengan nama tafsir yang beliau tulis yaitu al-Tafsiru al-Muyassaru untuk beliau persembahkan untuk berbagai kalangan untuk mempermudah menemukan inti makna ayat al-Qur’an.

Daftar Pustaka
Al-Qarni, Aidh bin Abdullah, al-Tafsiru al-Muyassaru. Riyadh: Obekan. Cet. II. 2008
Al-Qarni, Aidh bin Abdullah, Tafsir Muyassar. Jilid 1, Terjemahan Tim Penerjemah Qisthi Press. Jakarta: Qisthi press. Cet. I. 2007
Tim Forum Karya Ilmiah RADEN, Al-Qur’an Kita, Studi Ilmu, Sejarah dan Tafsir Kalamullah. Kediri: Lirboyo Press. Cet. I. 2011
http://tokoh-muslim.blogspot.com/2009/02/dr-aidh-al-qarni.html, diakses pada 27-11-2012
http://www.qurancomplex.org/Quran/tafseer/Tafseer.asp?nSora=2&t=moyasar&l=arb&nAya=104#2_104, diakses pada tanggal 3-12-2012

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: